Menu

gooretro

http: gooretro.blogspot.com

Pabrik Batik yang bagus dan berkualitas

gooretro

Di Lasem, Na U Ni bersama masyarakat setempat mulai membatik dengan mengangkat unsur kebudayaan Tiongkok. Batik Lasem dikenal karena keunikan motif dan pilihan warnanya. Dengan keunikan motif dan warnanya, batik Lasem termasuk kategori batik Pesisir. Hal ini memang secara geografis letak Kabupaten Rembang berada di daerah pesisir. Sama halnya dengan kota-kota yang berada di pesisir utara Pulau Jawa, Rembang merupakan kota pelabuhan yang besar. Di kota pabrik batik pelabuhan ini, akulturasi i ya antara masyarakat pribumi dengan pedagang yang berasal dari negara-negara asing mudah terjadi. Itulah sebabnya, Lasem sangat kental dengan unsur-unsur budaya Tiongkok.
Warna khas batik Lasem adalah marah darah, hijau, dan biru tua. Berdasarkan pewarnaan itu, batik Lasem ini juga dikenal dengan sebutan batik Tiga Negeri. Batik Lasem mengalami tiga kali proses pewarnaan. Pertama, pewarnaan dengan warna marah, lalu dilakukan pelorodan agar lilinnya hilang. Kedua, dicampur dengan tanah, lalu dimasukkan ke dalam pewarna biru. Ketiga, dilakukan pewarnaan dengan warna cokelat. Semua proses tersebut dilakukan dalam satu rumah. Disebut batik Tiga Negeri karena warna merahnya berasal dari Lasem, warna biru dari Pekalongan, dan warna cokelat (soga) berasal dari Solo.
Keunikan batik Lasem itu telah mendapatkan perhatian dan minat yang cukup besar dalam dunia perdagangan. Berbagai motif batik Lasem akhirnya tersebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia, seperti di Sumatera dan di Sulawesi. Bahkan di awal abad ke-19, batik Lasem sampai diekspor ke Brunei, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Suriname. Pada jasa seo jepara masa itulah batik Lasem menapaki kejayaannya.
Batik Lasem terus tumbuh dan berkembang hingga menjelang berakhirnya masa penjajahan Belanda di Indonesia. Para pengusaha batik Lasem yang berasal dari keturunan Tionghoa mendapat tempat istimewa di mata penduduk pribumi. Dari usaha batik ini, mampu membuka lapangan kerja yang cukup banyak. Namun, masa kejayaan batik Lasem mulai menyurut tahun 1950-an. Penyebab utama surutnya batik Lasem karena terdesak oleh maraknya penggunaan teknik batik cap di berbagai daerah. Selanjutnya, kondisi batik Lasem terus mengatami pasang dan surut, hingga saat ini mulai berkembanq kembali.
Ketika berbicara tentang sejarah perkembangan seni dan keterampilan membatik di Cirebon, tidak bisa dilepaskan dari suatu daerah yang disebut Trusmi. Suatu daerah di Kabupaten Cirebon ini kini telah berkembang menjadi sentra batik Trusmi.
Masyarakat Trusmi Cirebon diyakini telah mengenal batik sejak abad ke-14. Pada masa itu, di daerah Trusmi tumbuh banyak pohon yang ketika ditebang pabrik batik segera tumbuh kembali. Akibat keunikan pohon-pohon itu, maka daerah tersebut dinamakan Desa Trusmi yang berasal dari kata terus bersemi.
Tradisi membatik di daerah itu, bermula dari perintah seorang Sultan di Keraton Cirebon kepada orang Trusmi untuk membuat batik. Sang Sultan meminta dibuatkan batik seperti miliknya tanpa membawa contoh. Orang Trusmi hanya diperbolehkan melihat motif batik Sang Sultan sekali saja. Ketika batik buatan orang Trusmi diserahkan kepada Sultan, ternyata Sultan kesulitan untuk membedakan mana yang asli dan mana yang tiruan. Atas kejadian itu, maka Sultan mengakui bahwa orang-orang Trusmi mampu membuat batik dengan kualitas yang sangat baik. Sejak saat itulah seni dan keterampilan membatik tumbuh dan berkembang di daerah Trusmi.

© gooretro
Blox.pl najciekawsze blogi w sieci